Langsung ke konten utama

Postingan

Bersua

            Pukul 05.00 WIB, aku bergegas bangun dari tidurku. Dering alarm yang tenang mulai memecahkan keheningan kamar griya tawang dan smart watch yang menempel pada tangan kiriku bergetar kalem. Gelap gulita dalam kamar berubah menjadi terang, tubuhku berdiri dan tanganku meraih tombol on-off lampu kamar griya tawang. Butuh rentang waktu 1-10 menit untukku mencerna perubahan dari fase tidur ke fase bangun. Kali ini tak ada mimpi. Biasanya aku ingat betul apa mimpiku semalam. Namun, semalam sepertinya tak ada mimpi yang singgah dalam alam bawah sadarku. Terkadang, aku bingung mengapa aku mimpi buruk, biasanya dalam mimpi aku bersua pada suatu hal yakni, terkait trauma terbesar pada kehidupan. Kadang pula, bersua kawan-kawan lama yang pernah kukenal. Bersua teman SD, SMP, SMA, hingga kuliah. Bahkan, aku pernah bersua dengan atasan kerjaku saat dalam mimpi. Untungnya, dalam perjumpaan mimpi tersebut, aku tidak diminta untuk bekerja atau performance revi...
Postingan terbaru

Bagaimana Kehidupan Orang Jawa Masa Prasejarah?

Diperkirakan setidaknya 800.000 tahun lalu, manusia purba di Pulau Jawa telah mempunyai suatu kebudayaan (Heekeren, 1950-51) "De Vroeg-Palaeolistiche Patjitan-Cultuur en Haar Betekenis". Kapak batu kemungkinan digunakan untuk menguliti dan memotong daging binatang buruan yang sebelumnya dibunuh mungkin dengan tombak kayu (Koentjaraningrat, 1984. “Kebudayaan Jawa”). Manusia purba di Pulau Jawa dan di bagian barat Kepulauan Indonesia-Malaya mengembangkan kebudayaan berburu, meramu, dan menangkap ikan di muara sungai. Mereka bertempat tinggal di bawah karang ( abris sous roche ) dan tidur di belakang tadah angin atau di dalam gua (Koentjaraningrat, 1984 “Kebudayaan Jawa”). Salah satu alat pemotong yang digunakan manusia purba berupa kapak tangan berbentuk cakram yang sering diasah. Sisa-sisa alat ini umumnya ditemukan di situs-situs prasejarah berjenis abris sous roche dan mÓ§ddinger (sampah dapur) di sepanjang Jawa Timur, Sumatera Timur dan Utara, Malaysia Barat (Heekeren 1935...

Babad Itu Fiksi atau Fakta?

Menurut Kamus Baoesastra Djawa Poerwadarminta (1939: 23) babad bermakna crita bab lelakon sing kelakon ‘kisah mengenai peristiwa yang telah terjadi’. Tidak hanya di Jawa, istilah babad dikenal juga di Bali dan Madura. Istilah babad sama dengan carita atau sajarah (Sunda), hikayat, silsilah atau sejarah (Sumatera, Kalimantan, dan Malaysia), tambo (Sumatera Barat), dan lontara (Sulawesi Selatan) (Ekajati, 1978: 1 “Babad Cirebon Edisi Brandes Tinjauan Sastra dan Sejarah”). Beberapa babad menceritakan perkembangan historis dan mistis di dalam masyarakat Jawa, umumnya lingkungan keraton menjadi fokus utamanya. Babad biasanya terdiri dari ratusan halaman berupa tembang. Babad ditulis secara anonim (nama sang penulis tidak disebutkan) sehingga konteks sosial babad tidak diketahui dan waktu penulisannya tidak selalu dicatat. (Ricklefs, 2014 “Babad Giyanti: Sumber Sejarah dan Karya Agung Sastra Jawa”). Kata babad biasanya diikuti dengan kata lain yang menjadi subjek atau tema utama mayorit...
Your Destiny, My Destiny Our Destiny             Berbondong-bondong manusia kelaparan dengan ilmu. Bagi mereka segala yang ada di dunia ini adalah ilmu. Alam semesta memberikan mereka pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya, membangkitkan rasa penasaran itu dan mulai mencari jawaban. Mereka tak pernah puas dengan ilmu yang didapatinya saat ini. Awal tujuannya mencari ilmu, sebagian besar dari mereka menimba ilmu yang kemudian digunakannya untuk meraup harta yang sebanyak-banyaknya. Berharap asa dari iming-iming bunga tidur tentang ilmu yang dapat mengentaskan kemiskinan yang saat ini membelenggu leher-leher manusia jangkung itu karena untuk makan saja penuh dengan perjuangan membanting tulang, cucuran keringat, bahkan linangan darah merah segar ia korbankan guna memenuhi nafsu lambungnya. Perkampungan itu sungguh kumuh. Manusianya digerogoti malas dalam jiwanya, membuat mereka seperti tumpukan sampah  tak berguna. Sungguh...
Sekolah Bukan Sekedar Mimpi Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya memakai seragam sekolah. Betapa gagahnya tubuh ringkih ini memakai sehelai kain merah dan putih, mungkin itu hanya mimpi belaka. Mimpi yang terbang dibawa hempasan angin, apakah dapat jadi kenyataan atau tidak. Di saat teman-teman sebayaku tengah bersekolah, menikmati masa kanak-kanaknya bercanda ria, bahkan berbagi bekal sekalipun, aku rela mengintipnya dari kejauhan sembari membawa karung beras yang sudah usang berisi botol-botol bekas dipunggungku. Bahkan, aku pun tak tahu siapa orang tuaku, menurut warga desa, aku adalah anak buangan dari mereka. Mereka meletakkanku begitu saja di pinggir sawah, seperti aku ini anak kucing saja, ditinggalkan seenaknya begitu saja. Kucing pun juga punya nurani, apalagi manusia yang diberi akal pikiran dan hati nurani oleh Tuhan. Aku tak habis pikir, betapa kejamnya kedua orang tuaku, meninggalkan buah hatinya sendiri di sini. Hidup sendiri. Hingga aku diasuh orang tua – yang ...
Kelam Lampu jalanan tampak temaram Langit berhiaskan hitam pegam Menurunkan hujan berdentam-dentam Mengutukku pada kesunyian kian mencengkam Dan ku masih di sini, menanti indahnya mimpi malam Tapi, ku takut untuk tenggelam Dalam lingkaran masa lalu yang kelam Memang, hatiku terasa terbungkam Aku tak boleh berserah pada alam Walau kenyataan kian memburam Lupakan atau luka ini selalu menghujam !
Derai Luka Hujan berderai luka Ku sambut dengan suka Ku nanti dengan setia Walau hitam pegam menghias angkasa Tak ubahku berpaling darinya Ku buka kedua mata Menatap indahnya spektrum warna Terindah lagi engakau yang di sana Yang sanggup bungkamkanku seribu bahasa Mulutku dibuat bisu karenanya Meski sekadar menyapa Entah mengapa Aku selalu memikirkannya Ego membutakan segalanya Naif, itulah pantasnya Inilah akhir dari fatamorgana