Pukul 05.00 WIB, aku bergegas bangun
dari tidurku. Dering alarm yang tenang mulai memecahkan keheningan kamar griya
tawang dan smart watch yang menempel
pada tangan kiriku bergetar kalem. Gelap gulita dalam kamar berubah menjadi
terang, tubuhku berdiri dan tanganku meraih tombol on-off lampu kamar griya tawang. Butuh rentang waktu 1-10 menit
untukku mencerna perubahan dari fase tidur ke fase bangun. Kali ini tak ada
mimpi. Biasanya aku ingat betul apa mimpiku semalam. Namun, semalam sepertinya
tak ada mimpi yang singgah dalam alam bawah sadarku. Terkadang, aku bingung
mengapa aku mimpi buruk, biasanya dalam mimpi aku bersua pada suatu hal yakni,
terkait trauma terbesar pada kehidupan. Kadang pula, bersua kawan-kawan lama
yang pernah kukenal. Bersua teman SD, SMP, SMA, hingga kuliah. Bahkan, aku
pernah bersua dengan atasan kerjaku saat dalam mimpi. Untungnya, dalam
perjumpaan mimpi tersebut, aku tidak diminta untuk bekerja atau performance review. Bisa-bisanya aku
harus mimpi dengan atasan dan masih diminta untuk bekerja? Apakah tidak cukup
aku mendedikasikan waktuku di kantor selama 9 jam untuk bekerja? Apa jadinya
jika seseorang tidur lalu bermimpi, apakah itu termasuk lembur? Bagaimana
pembayaran jam lembur tersebut? Dibayar menggunakan dengan kurs mata uang yang
digunakan di dunia nyata atau kurs mata uang dalam kehidupan mimpi? Entahlah.
Padahal, seringnya sebelum tidur aku tidak memikirkan apa pun, scrolling media sosial, beberapa menit
sebelum akhirnya terlelap aku mencoba untuk merem, tentu dengan lampu kamar
keadaan mati, kipas yang menyala, dan seringnya, tidak memikirkan masalah
hidupku. Perjalanan dari fase persiapan tidur memasuki fase tidur seringnya aku
lakukan dengan pikiran lelah, setelah seharian penuh beraktivitas.
Aku
pernah juga bermimpi dengan orang asing, menggelar acara pernikahan dengan
resepsi yang cukup membagongkan. Bagaimana tidak, aku tidak tahu menikah dengan
siapa. Wajahnya tidak nampak. Aku hanya melihat bagian punggungnya itu. Pernikahan
dalam mimpi itu perasaanku dominan bingung. Aku dan suamiku–kehidupan mimpi—menggelar
acara pernikahan di lapangan dengan dihadiri oleh keluarga dan teman-teman
kami. Setelah dirias, aku naik mobil namun duduk di kursi paling belakang,
kursi di mana biasanya aku dan adikku duduk kalau kami sekeluarga pergi. Kursi
kasta terendah dalam hierarki keluarga adalah duduk di kursi paling belakang.
Merasakan beringasnya 2 ban mobil belakang berputar menjalankan perintah mesin,
menapaki jalanan yang kadang mulus, kadang bergeronjal, menyesuaikan di daerah
mana mobil melintas dan kursi yang tentunya juga tidak empuk-empuk amat, setidaknya
tidak seempuk dan sestabil kursi tengah. Memangnya ada pengantin yang menjadi
peran utama dalam hari pernikahan, tentunya hari yang spesial juga, duduk di
kursi paling belakang seraya melihat para pengendara lain menuju ke arah tujuan
mereka masing-masing? Selain itu, lebih mirip dengan para penumpang yang
menaiki angkot, sih. Duduk saling berhadapan dan dapat melihat pengendara lain
yang mengekor di belakang kendaraan kita.
Tak
cukup sampai di situ, aku juga bingung sebab sebelum dibawa ke lapangan, aku
dan suamiku–kehidupan mimpi—masuk ke sebuah gedung vintage. Disambut oleh para staf hotel mengenakan pakaian Eropa
klasik. Mereka mengenakan kostum berwarna merah, putih, biru, dan aksesoris
kepala serta sepatu berwarna hitam. Persis seragam kolonial Belanda selama
menjajah Indonesia. Apakah mimpi ini adalah kehidupanku di masa lalu? Lucu
juga, semacam reinkarnasi hidupku. Di masa lalu, mungkin, aku sebagai orang
kaya yang sanggup membayar resepsi pernikahan di hotel berbintang. Sedangkan
aku di masa kini, sebagai karyawan swasta biasa, dengan gaji yang saat ini yang
masih biasa-biasa saja. Setelah itu, kami diarak ke lapangan dan kami naik
kereta kuda. Ini bukanlah kereta kuda layaknya pangeran dan putri Disney, lebih
tepatnya kami naik dhokar. Resepsi
pernikahan digelar cukup mewah namun tetap dengan sentuhan tradisional
mengingat aku berasal dari desa. Aku pun cukup sering bingung, apa yang terjadi
pada saat aku tidur sampai-sampai aku harus mimpi se-random itu? Ya.. tapi aku menikmati momen-momen membagongkan itu.
Setidaknya, aku saat berada dalam fase tidur tidak sepi-sepi amat. Biar ada
ceritanya, gitu. Menarik juga ternyata. Oh iya, FYI saja, aku tidak tahu
siapa laki-laki dalam mimpi itu yang menikah denganku. Aku hanya dapat melihat
punggungnya, tubuhnya tampak dari depan, samping, dan belakang tetapi mukanya
tidak jelas. Jika bisa dideskripsikan dari sudut pandang seorang fotografer,
hanya memotret siluet-siluet tubuhnya saja. Sungguh misterius.
Masih
soal mimpi, aku pun pernah mimpi berjalan kaki di suatu alun-alun atau mungkin
kantor kecamatan di suatu daerah. Aku berjalan kaki saja karena, ya, entah aku
menjadi apa di mimpi itu. Sepertinya, aku sebagai perempuan pekerja yang tengah
menikmati waktu libur dengan diriku sendiri. Kalau istilah anak gen Z, me-time. Suasana dalam mimpi itu, cuaca
yang cerah berawan, tenang dan banyak pepohonan rindang. Lebih tepatnya,
pepohonan itu merupakan sekumpulan pohon beringin. Ditambah, matahari bersinar
cerah namun panasnya belum membakar kulit. Tidak seperti terik-teriknya
matahari Indonesia di bulan-bulan musim kemarau, khususnya bulan
Agustus-September.. terlebih orang-orang yang sedang menjalankan proyek.
Mitigasi, persiapan sebelum menghadapi musim hujan yang lazimnya mulai datang
rentang bulan Oktober-April. Aku curiga, di kotaku ini, Surabaya, sama sekali
belum hujan. Pada saat yang sama, aku melihat instastory teman-temanku di daerah mereka tinggal atau bekerja
bersliweran sudah diguyur hujan. Mulai dari Jakarta, Bogor, Kalimantan, Blora,
Tuban, dan berbagai daerah lain di Indonesia telah dilanda hujan pada pagi,
siang, atau sore hari. Aku pernah mendengar sayup-sayup hujan datang di sini
pada pukul.. 02.00 dini hari. Itu pun juga berlalu sangat singkat, 10-15 menit
saja. Apakah pemerintah setempat, uhuk, maksudnya “orang-orang yang sedang ada
hajat pembangunan proyek” menyewa jasa pawang hujan? Seperti Mbak Rara pawang
hujan yang dibayar jasanya untuk “mengkondisikan” langit Mandalika dalam
menggelar ajang kompetisi MotoGP? Entahlah, yang jelas bahkan sampai November
tahun lalu di sini belum hujan sama sekali pada pagi, siang, atau sore hari di
saat kota-kota lain September sudah mulai dilanda hujan. Agak laen, ya.
Lanjut
mimpi tadi, ketika aku sedang santai berjalan kaki, tiba-tiba ada lelaki cukup
tinggi dari tubuhku menghampiri. Dia mengenakan kaus abu-abu polos, celana
panjang dengan kain jenis chino
berwarna hitam, dan sandal jepit Swallow berwarna merah dengan alasnya berwarna
putih. Dia pun juga sama sepertiku, sendirian dan sepertinya tengah menikmati me-time. Kami berkenalan lalu berjalan
kaki bersama sembari bercengkerama memutari kantor kecamatan itu. Aku pun juga
bingung mengapa aku ada di kantor kecamatan untuk menikmati hari libur kerjaku?
Padahal, kantor kecamatan biasanya didatangi untuk mengurus suatu hal
administrasi atau mengurus keperluan acara Agustusan, Hari Ulang Tahun Republik
Indonesia. Sungguh pilihan tempat yang sangat nyentrik, sangat nggak
jelas untuk ukuran orang menghabiskan waktu di hari liburnya. Nampaknya, aku
dan laki-laki itu sangat menikmati obrolan dan kami duduk di bangku yang ada di
kantor kecamatan tersebut. Hingga akhirnya, aku bersandar pada bahunya dan kami
berciuman. Membagongkan, bukan? Lagi dan lagi, aku tidak tahu siapa gerangan
laki-laki itu. Biasanya, kalau aku bermimpi dengan lawan jenis, aku tidak
tahu-menahu wajahnya, hanya punggung dan tubuhnya. Setidaknya, aku menikmati
peranku dalam mimpi tersebut. Bahkan, terbawa sampai bangun dari tidur meskipun
aku juga terheran-heran sebab pada malam sebelumnya, aku kelelahan setelah
seharian penuh beraktivitas. Kapan lagi ada di momen kasmaran dan
tersenyum-senyum hingga aku terjaga, kan?
Nyawa sudah cukup terkumpul, saatnya melanjutkan aktivitas
sebelum bekerja. Jujur saja, jam kerja 07.00 WIB ini adalah seperti flashback
ketika aku dulu sekolah. Momen yang tepat mendefisinikan hal ini: Shit, here
we go again. Seketika aku rindu saat masih kuliah sebab lebih asyik dan
leluasa, perkuliahanku paling pagi dimulai 08.00 WIB. Peralihan “jam produktif”
dari mahasiswa selama 4 tahun ke karyawan sungguh memaksaku untuk bangun subuh,
lebih tepatnya 05.00 WIB atau lebih dini. Selama 2 jam sebelum bekerja, kudedikasikan waktu untuk persiapan
seperti beribadah, menyiapkan bekal, dan bersolek sebelum berangkat kerja.
Setibanya di kantor, aku duduk random selama meja
kerja tersebut tampak kosong, langsung buru-buru kuletakkan barang-barangku di
sana. Mulai dari botol minum air mineral, kopi dalam tumblr bervolume 330
ml, masker, dan tas kerja. Maklum, posisiku di kantor tidak ada meja kerja
khusus, atau kubikel “fix” dengan
papan nama di meja. Boro-boro
ruangan yang hanya dikhususkan untukku seorang. Apalah aku yang masih berada di
hirarki terbawah dalam kantor dan banyak orang lain di luar sana yang posisinya
sama denganku. Jadi, semua orang bebas duduk di mana saja mereka mau. Setiap hari pun posisi
dudukku berubah-ubah. Kalau malas atau nyaman dengan suatu tempat asal
kesempatannya juga tersedia, bisa saja aku selama 2 hari berturut-turut duduk
di tempat yang sama.
Setiap hari, aku berinteraksi dengan banyak sekali orang,
entah hanya sekadar sapa, berbasa-basi, atau kalau sedang ingin, bercerita
seputar kantor atau kehidupan pribadi, sedikit. Pula, aku berpapasan ratusan
orang dalam sehari. Begitu pun aku juga mengobservasi orang-orang di kantor,
hanya aku dan diriku. Tak terkecuali anak divisi sebelah, divisi IT. Jumlah
mereka sedikit, kurang dari 10 orang. Jadi gampang untuk menghapalnya
dibandingkan posisi sepertiku yang jumlahnya ratusan orang. Aku seperti biasa,
fokus bekerja dan memilih lebih banyak bungkam jika tidak ada rekan kerja yang
mengajak bicara atau topik yang sedang ingin dibahas. Aku menikmati masa-masaku
hanya fokus dengan pekerjaanku, target tercapai seperti karyawan pada umumnya,
terima gaji, lalu pulang. Tim IT, yang menarik perhatianku, masuk juga ke ruang
kerja divisiku sebab minimalisnya jumlah mereka.
Hari Jumat seperti ini, aku sebagai perempuan lazimnya di
kantor tempatku bekerja mendapat jam istirahat makan siang 1 jam lebih lambat ketika
para karyawan laki-laki usai menunaikan salat Jumat. Pukul 13.00, aku memulai
jam istirahatku dengan makan bekal simpel yang kusiapkan subuh tadi, menuju
ruang makan yang ada di lantai bawah sebab aku belum pernah menikmati makan
siang di sana. Aku ingin mencoba suasana baru, terlebih lantai bawah ini juga
baru dibuka oleh kantor setelah para tukang dikerahkan untuk menggarap proyek
selama 3 bulan terakhir. Seperti biasa pula, aku cukup sering menikmati waktu break-ku sendirian. Entah membaca buku, scroll-scroll e-commerce, menonton klip
video YouTube atau film melalui smart TV
kantor. Hal ini merupakan caraku untuk re-charge energi sebelum
kembali bekerja.
Ternyata setiba aku di sana, ramai juga untuk ruangan 5 x 10
meter itu dengan belasan orang di dalamnya. Sepertinya, ini jumlah yang paling
ramai aku kunjungi di ruang makan lantai bawah. Sering kali sepi, sering pula kosong.
Bahkan biasanya hanya diisi 1 orang, itu pun juga karena menonton salah satu
saluran di YouTube atau mendengarkan lagu melalui smart TV. Sekarang berbeda, khususnya jam makan siang, wajar. Jujur
saja aku bingung harus duduk di sebelah mana sebab tempat duduknya saling
berdekatan. Berbeda dengan ruang makan lantai atas yang jarak antarkursi saling
berjauhan sehingga lebih leluasa, lebar ruangannya pun juga berbeda, sih, 3x
lebih lebar daripada ruang makan lantai bawah. Harusnya, aku yang hanya seorang
diri duduk di kursi tinggi menghadap jendela. Apalah daya, aku berpikir,
tempat-tempat duduk itu sungguh sangat sempit dan berhimpitan. Terlebih lagi,
kursinya tidak ada sandaran punggungnya. Aku saat ini sedang butuh sandaran,
sandaran kursi lebih tepatnya bukan sandaran hati. Jumlah tempat duduk tinggi
itu sekitar 10-11 buah tetapi tiap-tiap orang sendirian menyantap bekal makan
siang mereka itu menggunakan 3 kursi dan sudah ada 3 orang duduk di sana.
Di depan smart TV, ada 2-3 orang perempuan yang sedang menonton klip video
YouTube di sofa berwarna gradasi 3 rupa warna ungu itu, warna kesukaanku,
ditemani segerombolan 7 orang perempuan, layaknya dayang-dayang yang
mengelilingi sang ratu, yang duduk di belakangnya. Tempat duduk ini konsepnya
ada 2 buah kursi di sisi kanan dan kirinya, dengan 2 buah kursi berhadapan
mirip meja makan keluarga Eropa yang tengah mengadakan makan malam bersama.
Setahuku selama ini menonton film-film barat, 2 orang yang duduk berhadapan
biasanya suami-istri pemilik rumah yang hanya akan duduk di situ. Merekalah
yang “berusaha” membuat kondusif perbincangan makan malam jika obrolan sudah
mulai offside, ngelantur, atau tidak
perlu dibahas lebih lanjut. Mereka pula sering melakukan eye contact jika terdapat
percakapan-percakapan yang tidak seharusnya keluar dari mulut, cukup memberikan
kode-kode melalui tatapan mata agar perbincangan berjalan semestinya, dengan
bahasan-bahasan yang perlu diketahui semua orang, yang tengah menyantap
makanan.
Suasana di ruang makan itu
riuh ramai, sampai aku memutuskan untuk duduk di “formasi meja makan Eropa”
lainnya, yang lebih sepi dan hanya disinggahi 2 orang laki-laki. Tanpa
basa-basi, aku langsung duduk di salah satu kursi yang berhadapan, yang
biasanya diduduki oleh pasangan tuan rumah. Aku makan dengan santai, 1 jam
membuatku menikmati suap-demi suap sayuran rebus, tahu yang kuhancurkan
berbalur telur lalu digoreng di atas teflon dengan sedikit minyak, dan 8 sendok
makan muesli. Bekalku akhir-akhir ini
memang cukup hambar, aku sedang berusaha untuk diet. Makan makanan real food dengan minim proses memasaknya.
Siapa tahu badanku lebih enteng dengan menyantap makanan “clean” dan bonusnya berat badanku perlahan-lahan turun. Aku turut
serta menonton tayangan yang ditampilkan pada smart TV dengan pemegang kendali remote control salah satu perempuan duduk di sofa tadi hingga
akhirnya fokus pikiranku terpecah sebab tepat 10 menit aku berada di ruang
makan itu, 2 orang tim IT yang ada di ruangan kerjaku tadi, masuk.
Jantungku, sejak ada 2 orang tim IT itu masuk ruang makan,
entah mengapa berdebar-debar. Aku pun juga heran, padahal kita sekedar menyapa
pun tidak. Aku pun yakin dia pun bahkan tidak tahu namaku ataupun eksistensi
diriku. Mungkin hanya sekedar tahu e-mail
profesionalku di kantor ketika device
kantor yang sedang kupakai bermasalah berkaitan dengan IT. Oh My God. Aku berusaha untuk tetap tenang, tentu. Tim IT tersebut
akhirnya memutuskan untuk duduk di meja dengan kursi tinggi menghadap jendela,
jaraknya pun tidak sampai 3 meter dari tempat aku duduk. Hingga tanpa tersadar,
2 orang laki-laki yang duduk 1 meja denganku beralih ke sebelah meja, di mana 2
orang dari tim IT berada. Tak hanya itu, gerombolan perempuan yang berjumlah
9-10 orang itu berangsur-angsur meninggalkan ruang makan dengan mematikan smart TV yang sedari tadi aku turut
nimbrung menonton. Jantungku malah makin mempercepat detaknya, sialan.
Seolah-olah meledek kondisiku saat ini, lantaran jantungku bekerja layaknya aku
sedang berlari, jalan menanjak, atau latihan angkat beban di gym. Hanya salah satu dari mereka yang
aku yakin menjadi penyebab jantungku berdetak tak karuan, Jagra.
Jagra, yang memiliki nama lengkap Anjani Jagratara, dengan
ke-sotoy-anku telah mencoba mencari
tahu arti nama yang unik itu melalui pencarian internet. Ternyata, nama lengkap
Jagra berasal dari bahasa Sansekerta. “Anjani” berarti berbakti dan “Jagratara”
memiliki makna selalu waspada. Anjani Jagratara kurang lebih bermakna pribadi
yang berbakti dan senantiasa waspada. Sungguh mulia arti namanya, terselip
harapan dan doa orang tuanya dalam kehidupan Jagra kelak. Jagra ini tipikal
lelaki berkulit eksotis layaknya orang Indonesia pada umumnya, sawo matang.
Namun wajahnya yang aku yakin, dulu mungkin kakek-kakek-kakek atau
nenek-nenek-nenek buyutnya dulu berasal dari negeri seberang, mungkin India?
Hmm, sepertinya tidak. Atau hasil perkawinan campuran warga negara Thiland x Belanda?
Entah, sebab wajahnya lebih mirip hasil keturunan dari perkawinan mix-culture.
Awalnya, sejak dia baru masuk kerja di kantor aku biasa saja, nothing special. Terlebih aku juga
telah memiliki kekasih di luar sana. Ya, meski harus menjalani Long Distance Relationship (LDR) karena penempatan lokasi kerja kami
masing-masing. Lama-lama kuperhatikan, “boleh juga” seperti judul lagu yang
dibawakan oleh Salma Salsabil, sedang naik daun di TikTok tidak lama ini.
Entahlah, apakah aku termasuk mengkhianati pacarku yang ada di luar kota sana?
Aman, nanti akan kuceritakan tentang perasaanku hari ini ke dia ketika sudah
pulang kerja nanti. Menurutku, sepelik apa pun situasinya dalam suatu hubungan
akan tetap dapat diatasi dengan kejujuran, walaupun terkadang sepahit minuman bratawali.
It’s fair. Lagi pula, apa pun
perasaan yang kita rasakan saat ini merupakan anugerah dari Tuhan, Sang Maha
segalanya, termasuk rasa kasmaran (?) atau ini hanya kilahku saja agar dapat menenangkan
dan mendukung pernyataan atas diriku. Kunikmati saja perasaan ini meskipun
membingungkan. Hal yang paling penting, tetap mengendalikan perasaan ini dan
tidak menanggapinya lebih jauh, apalagi kita memiliki kekasih atau pasangan
sah.
Jujur saja, hatiku sangat tidak karuan sejak dia masuk ke
ruang makan ini. Aku tidak ingin terlihat salting (salah tingkah) tapi aku pun juga tidak bisa membohongi diriku sendiri jika.. apa
penyebutan kondisi ini yang tepat? Kasmaran? Panic Attack? Akan tetapi
aku juga tidak sedang panik dalam menunggu wawancara kerja. Untungnya, aku tidak
sampai harus panggilan alam ketika salting itu. Meski aku pernah, saking
paniknya sebelum wawancara dimulai, aku panggilan alam dalam waktu tersingkat dan
terefisien dalam sejarah waktu panggilan alamku selama, hanya 2 menit, cuy!
Waktu 2 menit yang singkat dan berkesan.
Bagaimana tidak, kamu berada dalam kondisi yang bagi sebagian orang adalah
ritual wajib harian, panggilan alam, tetapi dapat mengeluarkan apa yang harus
dikeluarkan seoptimal mungkin dengan waktu sesingkat-singkatnya. Beuh,
rasanya bangga.
Back to topic, biasanya, aku hanya melihatnya
dengan jarak 10 meter, rekor paling dekat 2 meter dan itu pun di tengah
kerumunan banyak orang. Namun sekarang, aku 1 ruangan dengan dirinya dan hanya
ada.. 5 orang, itu sudah termasuk diriku. Lucunya, aku duduk di dekat tempat
sampah, tepat 30cm berada di belakangku. Santai saja, ruang makan ini ber-AC,
pewangi ruangan cukup semerbak memenuhi ruang makan. Kali ini, diffuser-nya yang sedang nangkring di
meja smart TV beraroma sakura blossom meskipun sudah mulai
memudar aromanya. Lagi pula, tempat sampahnya tertutup, kok. Saking semerbaknya
bau pewangi ruangan di ruang makan ini sampai-sampai aku tidak bisa mencium bau
kentutku sendiri ketika sudah ada di ruangan ini. Sangat dingin, pendingin
ruangan yang aku yakin di-setting 20-21
derajat celcius. Mungkin memang sengaja demikian untuk menutupi aneka aroma
makanan para karyawan yang berada dalam ruang makan ini agar tercium
samar-samar.
Untuk menutupi kesaltinganku
ini, beruntungnya aku membawa buku selain membawa bekal makananku tadi. Ketika
para gerombolan perempuan tadi meninggalkan ruang makan ini, aku bisa
berpura-pura menyibukkan dengan membaca buku meskipun.. rasanya aku sangat
gugup. Sesuap demi sesuap bekal kulahap ke dalam mulut. Tangan menyendokkan
makanan, karena aku sudah berada di posisi terpojok, mataku kualihkan ke buku
Cerita dari Digoel suntingan Pramoedya Ananta Toer. Aku tidak benar memahami
isi buku tersebut, aku hanya berusaha.. menutupi kesaltinganku dengan kehadiran Jagra. Apakah kalian pernah
merasakan hal yang sama aku rasakan? Atau apakah kalian pernah berada dalam
kondisi situasi dan perasaan seperti ini?
Pertama, dia membuang sampah bungkus makanannya, yang aku
juga tidak tahu apa itu jenis sampahnya, ke tempat sampah yang ada di belakang
tubuhku. Jika saja aku bisa koprol saat ini, aku akan koprol sembari berteriak
seperti orang-orang yang melepaskan rasa stress
dengan menjerit di tepi pantai, aku akan lakukan itu. Jantungku seolah tak
ingin mendengarkan apa perintah otakku agar tetap tenang tanpa merasa
deg-degan.
Kedua, mungkin 10 menit berselang dia membuang sampah (lagi)
yang, ya, betul, berada di belakang tubuhku ini. Getaran yang ada di jantungku
semakin mempercepat pacunya. Aku juga masih makan bekalku sembari “berusaha”
membaca buku suntingan Pramoedya tadi. Rasanya tidak betul-betul masuk ke dalam
otakku apa yang tertulis pada buku tersebut. Pacu jantungku ini mungkin dapat
disamakan gentingnya dengan keadaanku saat sidang tugas akhir (skripsi)? Atau
ketika aku dipanggil atasan karena kesalahan yang kuperbuat dalam pekerjaan.
Ya, seperti itulah rasa deg-degan yang sama namun beda situasi. Bahkan, dengan
kekasihku sekarang ini aku tidak pernah deg-degan sama sekali, kecuali saat
pertama kali bersua dengannya di bandara. Ya, saat itu perasaanku sama: salting dan deg-degan. Mungkin cukup
konyol bagi sebagian orang, aku dan kekasihku dulu berkenalan hingga akhirnya
berkencan secara daring sebelum akhirnya 9 bulan kemudian kami memutuskan
bersua. Apakah ini yang dinamakan kasmaran?
Atau berada di posisi jarak paling dekat, 30cm, kepada orang yang.. kamu cukup
tertarik padanya? Penggalan lirik lagu yang tepat untuk mendeskripsikan situasi
sekarang yakni, “Seperti ribuan bintang yang menghujam jantungku”, dibawakan oleh
Tompi dengan tajuk Menghujam Jantungku, rilis pada tahun 2008 silam.
Kira-kira 15 menit kemudian, dia dan teman IT-nya
meninggalkan ruang makan dan kembali ke ruang kerja. Aku pun menyusul masuk ke
ruang kerja 25 menit kemudian. Kuamati lagi si Jagra sang pembuat onar detak
jantungku di ruang makan tadi dari tempat duduk kerjaku. Aku hanya dapat
melihat punggung tegapnya dari belakang. Ia akhirnya melepaskan cardigan hijau botol yang dikenakannya
seharian ini. Padahal menjelang waktunya pulang tetapi dia malah melepaskan cardigan hijau botol itu sehingga nampak
kaos polos warna khaki lebih tepatnya
khaki PNS (Pegawai Negeri Sipil) itu,
senada dengan celana panjang khaki PNS-nya.
Mungkin gerah karena seharian mengenakan cardigan?
Bisa jadi. Akan tetapi, ini definisi 1 jam ia sebelum pulang malah melepas cardigan-nya. Setahuku, orang ketika
hendak pulang malah bersiap dan jika dia mengenakan cardigan atau jaket bergegas untuk memakainya. Bisa jadi dia bosan
mengenakan cardigan hampir seharian
ini. Aku lebih sering melihatnya memakai lengan panjang, entah itu kemeja flannel
berlengan panjang, berbalut jaket lengan panjang, atau cardigan lengan panjang yang dikenakannya sekarang. Makanya, ini
hal yang tidak lazim aku lihat dari dirinya.
Smart watch yang melingkari pergelangan tanganku menunjukkan pukul 16.00 WIB, Jagra mulai beranjak dari kantor untuk pulang sedangkan aku masih harus melaksanakan kewajibanku hingga beberapa menit kemudian. Sejak saat itu hingga sekarang, aku sudah tidak pernah bersua lagi dengan Jagra. Selamat tinggal, Jagra. Aku harap kita tidak bersua kembali dan apabila harus bersua, Tuhan tolong bantu aku untuk menetralkan detak jantungku saat berpapasan dengannya.
Komentar
Posting Komentar