Sekolah Bukan Sekedar Mimpi
Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya memakai seragam sekolah. Betapa
gagahnya tubuh ringkih ini memakai sehelai kain merah dan putih, mungkin itu
hanya mimpi belaka. Mimpi yang terbang dibawa hempasan angin, apakah dapat jadi
kenyataan atau tidak. Di saat teman-teman sebayaku tengah bersekolah, menikmati
masa kanak-kanaknya bercanda ria, bahkan berbagi bekal sekalipun, aku rela
mengintipnya dari kejauhan sembari membawa karung beras yang sudah usang berisi
botol-botol bekas dipunggungku.
Bahkan, aku pun tak tahu siapa orang tuaku, menurut warga desa, aku
adalah anak buangan dari mereka. Mereka meletakkanku begitu saja di pinggir
sawah, seperti aku ini anak kucing saja, ditinggalkan seenaknya begitu saja.
Kucing pun juga punya nurani, apalagi manusia yang diberi akal pikiran dan hati
nurani oleh Tuhan. Aku tak habis pikir, betapa kejamnya kedua orang tuaku,
meninggalkan buah hatinya sendiri di sini. Hidup sendiri. Hingga aku diasuh
orang tua – yang juga bukan dari kalangan mampu.
Untuk makan sepiring nasi pun, kami sekeluarga harus banting tulang
mencari uang. Cucuran keringat keluar dari por-pori kami ketika matahari tepat
di atas kepala. Jadi, aku tak berani meminta yang macam-macam, apalagi sekolah.
Yang kutahu, dapat mengenyangkan perutku yang sedikit cekung dan membantu orang
tua asuh sudah cukup, aku tak mau membebani mereka.
Siluet orang berjalan menghampiriku,
aku tengah mengistirahatkan tubuh sejenak di pinggir kali yang kerap kali aku
mencurahkan segala isi hatiku pada aliran air. Walaupun mereka tak pernah
menjawab atau pun menanggapi kecohanku, aku terus saja berbagi hal padanya.
Suaranya begitu berat, tetapi tetap terdengar syahdu.
“Karson, apa yang kau lakukan di
sini? Ayo bermain petak umpet!” Budi, salah satu teman bermain di desaku
“Ah apalah kau ini, menggangguku
saja. Aku sedang tidak mood.” Aku tak
mengalihkan pandangku pada sungai.
“Ada apa denganmu? Apa kau sedang
ada masalah? Ceritakanlah padaku, Son.”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya
kesepian, Bud. Bagaimana rasanya sekolah? Apakah menyenangkan?”
“Wow, tentu saja! Kami di sana di
ajari oleh Bu Guru berhitung, bernyanyi, menulis, dan berhitung. Ditambah
dengan teman-teman yang sangat menyenangkan.”
“Begitu serukah rasanya bersekolah?”
Mataku berbinar-binar mendengar cerita Budi, aku dengan khidmat mendengarkan
setiap kata yang mampu menghipnotisku.
“Begini, kami berangkat jam 7 pagi,
kemudian kami digiring ke lapangan sekolah oleh guru untuk segera mempersiapkan
diri mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan tiap hari senin.
“Terus-terus, apa yang kalian lakukan setelah itu?”
Budi terdiam sejenak, ia membasahi bibirnya yang kering, karena harus
memenuhi permntaanku untuk menceritakan pengalaman belajarnya di sekolah.
Begitu lucunya dia, bisa-bisa aku harus menahan tawaku.
“Saat pengibaran bendera, kami diminta untuk menghormat bendera dan
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan begitu seterusnya. Usai upacara,
kami memasuki kelas dan siap menerima pelajaran. Biasanya sih, setiap hari
pelajarannya ada tiga, khusus hari Jum’at hanya ada dua mata pelajaran. Tiap
dua jam pelajaran, bel istirahat berbunyi dan kami keluar kelas.”
“Loh, memangnya ada apa kalian
keluar kelas? Apa tidak dimarahi oleh bu Guru kalian?” jawabku penasaran pada
Budi, masak mereka keluar begitu saja dari kelas?
“Aduh, Karson! Kami keluar kelas
untuk beristirahat. Sebagian besar dari kami bermain di lapangan sekolah. Ada
yang bermain voli, bermain petak umpet, gobak sodor, dan lain-lain. Selain
bermain, kami juga jajan di kantin sampai bel masuk kelas berbunyi lagi.
“Maaf-maaf, aku kan juga tidak tahu
bagaimana rasanya sekolah.” Aku langsung murung dibentak begitu saja oleh Budi.
“Aduh maaf Kar, bukannya aku
bermaksud membentakmu.”
“Ah, tidak apa-apa kok. Santai saja,
Bud.”
Mereka berdua berjalan di sepanjang
pematang sawah. Anak-anak desa lainnya bergabung dengan mereka, bermain-main
sepuasnya hingga gradasi langit berubah warna menjadi oranye keunguan.
Teman-temannya dengan ceria pulang ke rumah, karena sehabis magrib mereka
belajar bersama di salah rumah teman mereka. Di sela-sela keseriusan belajar,
mereka tertawa kadang juga berdebat hingga ada yang menangis- keukeuh dengan pendapatnya.
Tubuh ringkih itu menapaki jalan,
kedua bola matanya tertunduk lemas, enta apa yang berkecamuk di pikirannya.
Kedua orang tua asuhnya menyambutnya dengan penuh rasa kasih dan hangat,
padahal kedua orang tua itu bukanlah orang tua yang sejujurnya, tapi bagi
Karsono kecil, tanpa mereka mungkin dia tidk akan hidup lebih lama lagi di pinggiran
sawah.
“Kar, kau kenapa murung begitu?”
Tanya Ibu penuh kasih
“Mmm, Kar boleh jujur apa ndak, Bu?”
“Loh, memang selama ini ndak jujur sama Ibu?”
“Bukan begitu, Bu. Ini adalah
keinginan Kar yang sudah dipendam sejak lama.”
“Memang kamu kepengin apa, le?” kini giliran suara bernada bass berganti. Itu suara Bapak.
“Itu, Pak, itu Bu, Kar pengin anuu,
pengin anuu…” Kar tak sanggup melanjutkan kalimatnya lebih lama lagi.
“Pengin apa to le? Kalo ngomong yang jelas.” Ucap Ibu sembari menepuk bahuku dan
membawakan secangkir the hangat.
“Ya sudah, kalo ndak mau cerita sekarang, ndak apa-apa le”
“Itu Bu, Kar kepengin sekolah sama
seperti temen-temen Kar yang lain.”
“Oalaah, le ya mbok bilang toh. Ngomong kepengin sekolah aja kok susah.” Ibu
menertawakan sifat Maluku.
“Ya, le Bapak dan Ibu sadar kita ingin menyekolahkanku, biar hidup kamu
ndak susah seperti orang tuamu ini. Mungkin kami berdua bukan orang tuamu yang
sesungguhnya, tapi kami akan sudah menganggapmu seperti anak Bapak dan Ibu.”
“Betul kata Bapak, Kar. Kami memang
ingin menyekolahkanmu, tapi kami harus menabung dulu untuk keperluan sekolahmu
nanti. Kamu kan butuh uang untuk beli seragam, alat sekolah, dan lain-lain.”
“Ya, nak. InsyaAllah kami akan
mendaftarkanmu bulan depan.” kata Bapak menghibur hatiku.
“Tapi Pak, sekolahnya kan sudah
berjalan selama dua bulan, mana mungkin aku bisa sekolah?” Tanyaku polos pada
Bapak.
“Bisa nak, nanti biar Bapak yang
bicara pada kepala sekolahmu.”
“Asyik! Akhirnya aku bisa sekolah!
Makasih bapak, makasih Ibu.” Aku menciumi kedua tangan mereka. Aku sungguh
beruntung bisa sekolah. Nasibku masih jauh lebih daripada anak-anak di desaku
yang sebelumnya mengalami hal serupa sepertiku. Aku akan memotivasi mereka
untuk bisa bersekolah, supaya nanti hidup mereka tidak sesusah kedua orang
tuanya.
“Ini, Pak. Saya titip anak saya
untuk sekolah di sini. Mohon bombing dia dengan baik ya, Pak. Jangan
sungkan-sungkan kalo Karsono nakal dijewer saja kupingnya.” Aku yang mendengar
penjelasan Bapak tertawa, masih saja Bapak bisa bercanda seperti itu di depan
kepala sekolah.
“Hahaha, iya Pak. Kami pihak sekolah
akan mendidik Karsono dengan baik. Bapak tenang saja, jangan khawatirkan dia.”
“Iya, Pak. Terima kasih ya, saya
pamit dulu.” Bapak pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah.
“Pak, pak tunggu sebentar. Kenapa
Karsono baru didaftarkan bulan ini? Kan tahun ajaran barunya dua bulan lalu?”
Tanya kepala sekolah heran.
“Oh itu, Pak. Saya baru dapat rezeki
dari hasil tabungan saya sama istri dan baru tercukupi bulan ini untuk
mendaftarkan Karsono.”
“Begitu ya, Pak. Tidak apa, dua
bulan belum terlalu lama. Ayo, Kar kamu dapat memasuki kelasmu. Ada di sebelah
pojok dekat kelas 2.”
“Terima kasih ya, Bapak kepala
sekolah.” Aku mencium tangan halus kepala sekolah dan kemudian berpamitan
dengan Bapak.
“Pak, aku sekolah dulu ya. Nanti sehabis sekolah aku bantu bapak cari
rumput di lapangan.” Bisik Karsono kecil pada bapaknya.
“Terserah kamu sajalah, nak. Sekolah yang pintar ya, jangan nakal dan
membantah guru.” Punggung bapak kulihat semakin lama semakin menjauh, hingga
tak kutemukan lagi punggunya di balik pagar sekolah yang temboknya sudah
dihinggapi tumbuhan lumut di mana-mana.
Setelah Bapak betul-betul meninggalkanku, tak terasa bulir-bulir air
mataku meleleh. Aku sangat senang bercampur bahagia. Akhirnya, aku dapat
menikmati indahnya sekolah. Berkat usaha Bapak mengayuh becaknya, Ibu yang
dengan telaten menggarap sawah orang lain dan usahaku juga mengumpulkan
botol-botol bekas bisa mengantarkanku pada sesuatu yang sebelumnya hanya ada
dalam imajinasiku yaitu, sekolah.
Aku, Karsono kecil berjanji pada diriku sendiri untuk selalu
membahagiakan kedua orang tuaku, walaupun bukan orang tua sebenarnya yang kasih
sayangnya melebihi apapun. Dengan sekolah yang tinggi, aku tidak ingin seperti
mereka. Aku harus jadi orang sukses.
“Tepuk tangan yang meriah anak-anak untuk teman baru kita Karsono!” ujar
Bu Lili bu Guru baruku.
“Karsono, duduk di situ ya, di bangku kosong.” Bu Guru member aba-aba
padaku.
Kaki-kaki kecilku, kulangkahkan menuju bangku terindah yang akan ku
duduki selama aku belajar di sini. Tampang teman-temanku tersenyum hangat
menyambutku.
“Wah, Karsono sekarang sudah sekolah ya?” Budi nyeletuk di samping
telingaku.
“Iya, Bud. Aku senang sekali keinginanku sekolah tercapai.”
“Oke, jadi kita di sini dapat belajar dan bermain. Tentunya, jadi orang
sukses untuk membahagiakan orang tua kita.”
Ibu, yang melihat putra kecilnya tersenyum beliau ikut tersenyum. Melihat
Karsono bersekolah, ada cercah-cercah harapan untuk menata keluarga kecilnya
agar hidup lebih baik. Suatu hari nanti. TRL
Komentar
Posting Komentar