Your Destiny, My Destiny
Our Destiny
Berbondong-bondong manusia kelaparan
dengan ilmu. Bagi mereka segala yang ada di dunia ini adalah ilmu. Alam semesta
memberikan mereka pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya, membangkitkan rasa penasaran
itu dan mulai mencari jawaban. Mereka tak pernah puas dengan ilmu yang
didapatinya saat ini. Awal tujuannya mencari ilmu, sebagian besar dari mereka menimba
ilmu yang kemudian digunakannya untuk meraup harta yang sebanyak-banyaknya. Berharap
asa dari iming-iming bunga tidur tentang ilmu yang dapat mengentaskan
kemiskinan yang saat ini membelenggu leher-leher manusia jangkung itu karena
untuk makan saja penuh dengan perjuangan membanting tulang, cucuran keringat,
bahkan linangan darah merah segar ia korbankan guna memenuhi nafsu lambungnya.
Perkampungan itu sungguh kumuh. Manusianya digerogoti malas dalam jiwanya,
membuat mereka seperti tumpukan sampah tak berguna. Sungguh, menyayat hati jika jadi
mereka. Tapi, mau bagaimana lagi? Rasa malasnya mengendalikan semua otak-otak
tumpul dengan berdiam diri layaknya seonggok batu. Mungkin saja, jika mereka
mau berfikir keras untuk mengubah nasib mereka, akan ada keajaiban dari sebuah usaha
untuk menjadi lebih baik.
Pak Reyot, begitulah para
tetangganya memanggil. Ia hidup sebatang kara, memerankan sandiwara dari Tuhan
Yang Maha Agung sendirian. Ia pernah punya istri, tapi itu dulu. Parasnya
mungkin tak seperti Dewi Ratih, bagi pemuda dijuluki Reyot itu wajahnya elok
bagaikan rembulan kala purnama menjelang. Baru beberapa bulan memiliki istri,
permainan dari Tuhan mengajaknya
menghukum dirinya.
“Kang, bisakah kita keluar dari
perkampungan kumuh ini?” Tanya Susi, istrinya.
“Janganlah
kau bercanda Sus, katamu kau betah hidup di sini.” Tukas pak Reyot yang dulu
gelar itu belum diberikan padanya.
“Aku
tak betah di sini kang, Kita harus pergi. Menyaksikan betapa mengagumkannya
dunia luar. Janganlah membatasi diri, kita tidak akan berkembang.” Elak Susi.
“Terserah
kau sajalah, aku ingin memperbaiki perkampungan ini terlebih dulu, jika sudah
mengubah nasibnya lebih baik, kita dapat keluar dari sini.”
“Apanya
yang diperbaiki? Bahkan, Tuhan pun takkan pernah mendengar jutaan do’a kita
yang tiap-tiap sepertiga malam menggantung di angkasa. Tak satupun dari do’aku
dikabulkan”
“Husst,
tak baik berkata demikian dan menghakimi Tuhan seperti itu. Paras kau yang
cantik ini seharusnya dapat memperlihatkan kesucian hatimu. Bukannya menghakimi
Tuhan dengan kata-kata kejammu.”
“Persetan
dengan Tuhan! Aku akan pergi meninggalkanmu. Kau miskin, kumuh, dan bodoh!
Bahkan, berjalan saja kau seperti kakek sekarat. Dasar Reyot!”
Pemuda berwajah teduh itu hanya diam
seribu bahasa. Kata-kata istrinya menohok tepat di batinnya. Telak, tak meleset
sama sekali. Tersayat, dan berdarah-darah. Menyadarkannya dari kenyataan
asamnya kehidupan. Langit yang semula terang benderang dengan gradasi biru muda
dan kuning keemasan cahaya matahari berubah total dengan hitam pegam menghias
angkasa. Perdebatan dua sejoli bagai diujung tanduk, mungkin tak dapat
dipertahankan lagi. Adegan di siang terik seperti membuatnya batinnya kian
memanas ditambah dengan disaksikan puluhan pasang mata. Tatapan itu seperti
ingin menikam pasangan itu lumat-lumat, bahkan semakin terulurnya waktu warga
perkampungan kumuh semakin tertarik. Dianggap tontonan sirkus yang menarik
hati.
Perlahan-lahan tubuhnya meliuk-liuk berjalan seperti harimau kelaparan,
anggun dan indah. Meninggalkan suami yang baru dinikahinya. Susi, wanita
berparas cantik itu mati dengan cara tragis. Tak jauh dari situ, tiba-tiba
gelegar guntur menggema mengagetkan komponen biotik yang mendengarnya. Pak Reyot
masih menyaksikan punggung istrinya dari kejauhan. Tetesan air hujan turun
menghujam tajam mengaburkan pandangannya. Kedua bola matanya menangkap tubuh
itu limbung terjatuh ditempa tusukan jarum air hujan dengan dahsyatnya.
Meski jalannya Reyot dengan langkah
terpincang-pincang, ia menghamburkan diri dengan tempaan debit air hujan.
Pandangannya tak dapat dibohongi lagi. Disaksikannya wanita berparas cantik
yang dicintainya setengah mati hangus terbakar ganasnya guntur alam. Kemudian,
berduyun-duyun para tetangga membantu dua sejoli itu untuk dibawa ke rumah.
Jenazah Susi dikemubikan tak jauh dari rumah pemuda yang kini mendapat gelar.
Pak Reyot. Simpati dari tetangga, tak kan pernah sanggup membuat Susi bangkit
dari kematiannya. Pak Reyot terpuruk.
“Toloong! Toloong! Aku tak mau mati
di sungai ini!”
“Makanya, gunakan tangan dan kakimu
untuk merawatku!”
“Mengapa aku harus merawatmu? Dasar
sampah!”
“Siapa yang kau bilang sampah,
hah?!”
“Kau sungai, yang kotor dan penuh
sampah!” ejek pak Reyot
“Jika
aku sampah, mengapa kau membiarkanku bergelimang dengan sampah busuk itu? Apa
hidungmu tidak tertusuk saat mencium bau itu? Mengapa kau biarkan aku membunuh
indra penciuman hidungmu? Mengapa kau menyakiti dirimu sendiri?”
“Bukan,
aku. tapi mereka yang membuangnya. Jangan salahkan aku!”
“Kau adalah bagian mereka. Kau adalah yang merusakku dan alam sekitarmu! Lihatlah! Bahkan, kampungmu seburuk jiwamu!”
“Kurang ajar! Kau menghinaku sebagai manusia bejat?! Aku punya hati! Kau harus tahu itu!”
“Jika kau punya hati nurani dan akal fikiran sebagimana Tuhan menciptakanmu dengan demikian, mengapa kau mubazirkan Nikmat Tuhan itu?!”
“Kau adalah bagian mereka. Kau adalah yang merusakku dan alam sekitarmu! Lihatlah! Bahkan, kampungmu seburuk jiwamu!”
“Kurang ajar! Kau menghinaku sebagai manusia bejat?! Aku punya hati! Kau harus tahu itu!”
“Jika kau punya hati nurani dan akal fikiran sebagimana Tuhan menciptakanmu dengan demikian, mengapa kau mubazirkan Nikmat Tuhan itu?!”
Debit air sungai itu lambat laun
semakin mengejar Pak Reyot, mengahantuinya bagai Gondoruwo mencari mangsa
empuknya. Sungai yang ada di belakang rumahnya itu selain memberikan bau busuk
mengyengat serasa mematikan saraf-saraf penciuman, juga tak segan-segan
meluapkan air semudah membalikkan telapak tangan. Air itu menenggelamkan tubuh
Pak Reyot sampai hidungnya.
Bulir-bulir keringat dingin keluar
dari pori-pori kulit Pak Reyot. Nafasnya memburu bagaikan orang tengah
dikejar-kejar setan. Dadanya naik turun dan kembang kempis semakin menjadi-jadi
mengingat peristiwa mengerikan hampir merenggut nyawanya yang baru saja
dialami. “Huuh, ternyata hanya bunga tidur siangku.” Syukur dipanjatkan pada
Sang Maha Pencipta masih meberikan oksigen dengan segenggam sukmanya kembali
pada tubuh.
Pak Reyot merenungi mimpinya tadi,
seperti ada pesan yang tersirat arti mimpi tadi. Pak Reyot melangkahkan kaki
berjalan menuju sungai belakang rumah. Didapatinya sungai itu kian hari kian kotor. Batinnya
tergelitik untuk melakukan suatu perubahan. Kemudian, ia mencari siasat
bagaimana caraya agar sungai itu bersih, selain itu ia ingin membuat
perkampungan itu menjadi perkampungan bersih dan sehat.
Suatu hari, Pak Reyot mendengarkan
perbincangan ketua RT dan ketua RW di sekitar sungai yang dipenuhi pohon-pohon
besar.
“Ada urusan apa ya bapak-bapak
datang di perkampungan kami?” Tanya Pak RW pada salah satu gerombolan
bapak-bapak.
“Begini, Pak. Kami dari PT. Pelindo
ingin menebang pohon di lahan ini untuk dieksploitasi diubah menjadi meubel yang memiliki nilai ekonomi tinggi.”
Jelas mandor PT. Pelindo
“Tidak bisa, Pak. Pohon-pohon di
sini adalah penyokong hidup perkampungan ini.” Tegas pak RW
“Jika tidak ada pohon-pohon ini,
seluruh warga kampung di sini tidak akan hidup.” Pak RT pun menambahkan.
“Betul itu, jadi kami sangat
melarang keras kegiatan yang akan bapak rencanakan tadi.”
“Untuk perjanjiannya, setiap harinya
kami akan memberikan sejumlah uang untuk bapak. Tetapi, kami mohon untuk
bungkam dan tidak tahu jika ada warga yang menanyakan.” Iming mandor pada Pak
RT dan Pak RW
“Tidak akan, Pak. Kami tidak
setuju.”
Pak RT sepertinya tergiur dengan
tawaran mandor PT. Pelindo tersebut. Berandai-andai uang akan datang sendirinya
di rumahnya dan untuk menambah perekonomian keluaganya.
Pak RW mengajak keluar pembicaraan negosisasi
antara mereka dengan mandor-mandor yang berusaha menarik perhatiannya.
“Jangan mau tergiur, Pak. Ingat keselamatan kita semua.”
“Ini kesempatan langka, Pak. Kita dapat tambahan penghasilan, apalagi
anak saya sedang sakit keras di rumah sakit.”
“Meskipun begitu, itu urusan pribadi bapak sendiri. Jangan
disangkutpautkan dengan keselamatan warga, Pak.”
“Apa sih Bapak ini, saya mau menerima uang itu.”
“Ya sudah, kalu begitu Bapak saja, saya permisi.” Pak RW meninggalkan Pak
RT
Pak RW kecewa dengan mental Pak RT yang begitu bobrok. Disuap uang kecil
untuk kepentingan pribadinya adalah tindakan tidak terpuji.
Akibat dari persetujuan atas perjanjian Pak RT dengan pihak mandor
perushaan itu, kini tumbuhan di sekitar sungai sangatlah tandus. Pohon-pohon ditebangi,
parahnya, mereka juga membuang limbah hasil olahan kayu di sungai. Ditambah
lagi, warga perkampungan dengan seenaknya membuang sampah di sungai. Pak RT
sangat bersalah, tapi ia hanya bungkam dan tidak mau disalahkan jika ia angkat
suara.
“Pak, bagaimana kalau warga kampung dikumpulkan untuk kerja bakti
membersihkan sungai itu?” usul Pak Reyot pada ketua RT di rumah Pak RT.
“Memangnya kenapa, Pak?” Tanya Pak
RT penuh penasaran.
“Aduh, bapak ini bagaimana. Apakah
hidung anda tidak mencium bau busuk sampah?”
“Selain itu, banyak makhluk-makhluk
yang tumbuh dan hidup di sekitar sungai mati. Bahkan,
ikan pun tidak terlihat sama sekali. Banyaknya tanaman eceng gondok sudah
memberikan tanda bahwa sungai ini sangat tercemar.”
“Iya, ya Pak. Mengapa kita tidak
tersadar dari dulu ya?”
Batin Pak RT seperti dicubit. Ia
merasa berdosa karena telah ikut andil dalam pencemaran sungai itu. Seharusnya,
sebagai ketua RT ia bisa diandalkan warganya, meluruskan sikap warganya yang
kurang baik.
Akibat perjanjian itu pula, kampung
Pak RT sering dilanda banjir karena air hujan yang turun tidak dapat ditampung
dan diserap oleh pohon. Bagaimana bisa menyerap air hujan jika tidak ada pohon?
Tak sedikit pula, akibat dari banjir dan tanah longsor menelan korban jiwa. Sebetulnya,
hati Pak RT teriris jika menyadari banyak warganya meninggal dunia akibat
perjanjian sialan itu.
“Apa Bapak tidak ingin melakukan
aksi perubahan untuk kampung ini?”
“Aksi perubahan apa maksudnya?”
“Kita bisa menjadikan kampung ini
sebagai kampung pintar, untuk menjadi kampung percontohan oleh kampung-kampung
lain.”
“Tidak ada dananya, Pak.”
“Pak, saya tahu betul tentang
perjanjian Anda dengan mandor PT. Pelindo.”
“Apa? Anda menguping pembicaraan
kami?”
“Tidak, saya hanya saja saat itu
sedang kebetulan jalan-jalan untuk menengok keadaan sungai kampung yang semakin
hari semakn buruk saja.”
“Jangan laporkan saya pada polisi,
Pak. Saya mohon.”
“Maka dari itu, berjanjiah pada
warga untuk menyejahterakan kami semua.”
“Ya, Pak saya berjanji. Tapi
tolonglah jangan katakan soal perjanjian itu pada warga.”
Pak, Reyot meninggalkan Pak RT
sendirian di rumahnya. Sedangkan itu, berbagai pikiran tentang kampung yang
dipimpinnya semakin semrawut. Ia harus memperbaiki sikapnya selama ini.
Semenjak peringatan yang dilontarkan Pak Reyot pada Pak RT, Pak RT mebawakan
bibit-bibit pohon dalam jumlah besar dengan diangkut truck. Pak Reyot juga tak
henti-hentinya mengarahkan warga kampung haus ilmu tersebut dengan berbagai
macam inovasi penemuan-penemuan terbaru ramah lingkungan untuk dapat
melestarikan lingkungan perkampungan itu yang mulai rusak.
Warga pun tersadar, akibat dari
membuang sampah sembarangan di sungai. Banjir dan memampatkan aliran air sungai
yan seharusnya dapat dialirkan hingga ke laut. Mereka tidak mau menyusul
keluarganya yang telah dulu pergi karena hasil kecerobohan mereka.
Pak Reyot bersimpuh pada gundukan
tanah belakang rumahnya, ia dapat merealisasikan janjinya pada almarhumah istri
tercinta. Meski Susi kini tiada lagi di sampingnya, ia merasakan hasil
lingkungan baru dan semangat baru untuk selalu merawat alam dengan
sebaik-baiknya. Juga pada tetangganya yang haus akan ilmu alam raya ini.
Kehidupan perkampungan kumuh kini tidak lagi kumuh, kepeduliannya menghantarkan
pada kebahagiaan yang sebenarnya, yaitu dengan mencintai lingkungan sekitar.
Nasib mereka telah berubah, menjadi lebih baik.
Komentar
Posting Komentar