Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014
Kelam Lampu jalanan tampak temaram Langit berhiaskan hitam pegam Menurunkan hujan berdentam-dentam Mengutukku pada kesunyian kian mencengkam Dan ku masih di sini, menanti indahnya mimpi malam Tapi, ku takut untuk tenggelam Dalam lingkaran masa lalu yang kelam Memang, hatiku terasa terbungkam Aku tak boleh berserah pada alam Walau kenyataan kian memburam Lupakan atau luka ini selalu menghujam !
Derai Luka Hujan berderai luka Ku sambut dengan suka Ku nanti dengan setia Walau hitam pegam menghias angkasa Tak ubahku berpaling darinya Ku buka kedua mata Menatap indahnya spektrum warna Terindah lagi engakau yang di sana Yang sanggup bungkamkanku seribu bahasa Mulutku dibuat bisu karenanya Meski sekadar menyapa Entah mengapa Aku selalu memikirkannya Ego membutakan segalanya Naif, itulah pantasnya Inilah akhir dari fatamorgana
 Penyelamat Bangsa Kala mentari bersinar cerah Saat itu, Indonesia terpecah Bertarung melawan penajajah Badannya terbalut seragam dengan gagah Meski desingan peluru membuat terperangah Banyak manusia tanpa berdosa tergeletak di tanah Banyak petani digaji tanpa upah Langit bumi saksi juta sumpah serapah Batin kian teriris belati sebilah  Semangat patriotisme takkan punah Langkahnya seolah berkata ‘janganlah kalah’ Korbankan cucuran segarnya merah darah Mengalir dari tubuhnya yang bergairah Tulang belulang dibiarkannya patah Diluapkannya segala amarah Penjajah wajib dibantah Agar nasib negara ini tak semakin parah!
Perjuangan Semburat kuning keemasan Kokok jago tanda kehidupan Saksi lika-liku sebuah perjuangan Lihatlah! Pencari ilmu menapaki batuan Terpaan jarum hujan tak dihiraukan Kawanan sungai, hamparan sawah jadi tantangan Jembatan penyambung jalan tak mampu menahan Lihatlah! Pakaian compang-campingnya menghias badan Sepatu bututnya melar minta dijahitkan Dalam jiwanya bara semangat tersimpan Aliran darahnya tertancap satu tujuan Benaknya berkobar membangun impian Peluhnya mewujudkan seberkas harapan Tampangnya mengartikan ketabahan Kemiskinan tak jadi halangan Semua bisa jadi kenyataan!
Dari Sang Kasih Penawar rasa jiwa Penyejuk kala nestapa Membalut serpihan luka Tiap denyut jantung berirama Dia pun telah pergi Mengikis kokohnya hati Tertusuk, tercabik seperti mati Dunia sesak halusinasi Sang waktu seakan egois Masa bodo dengan tampang tangis Meraung, merangkak, menangis Kenangan lembut arum manis Tak apalah Biar daku yang mengalah Menatap kali terakhir rona wajah Kalbu gelisah, langkah tak terarah
Rindu Rindu itu sebuah asa Mengalirkan air mata Menguapkan segala rasa Rasa ingin selalu bersama Ketika hening berkisah Senyum perlahan merekah Kutemukan kau dalam celah Karena engkaulah anugerah Terkadang fakta, imaji menipu Tersayat sembilu menembus kalbuku Meluruhkan angan semu Tersedu kenangan palsu
Sepotong Kebahagiaan Tuhan Mengapa aku selalu bersedih? Apakah Engkau membenciku? Hingga Engkau memberi cobaan-cobaan yang menyiksa Tuhan Dapatkah aku tersenyum? Tersenyum walau teramat singkat Tuhan Dapatkan aku tertawa? Tertawa untuk melepas sejenak bebanku Aku tahu, aku lemah Aku tahu, aku hina Berilah aku sepotong kebahagiaan Kebahagiaan yang nyata Aku lelah Akan semua dusta ini Begitu manis, tapi semu
Penjajah Kau datang ke bangsaku Dengan berbagai tujuan dan alasan Menjarah rempah-rempah Awalnya baik hati juga ramah Berhidung mancung, kulit putih pualam nan tinggi menjulang Kau memikat simpati rakyat Rakyat menerimamu dengan hormat Mengganggap kau adalah cahaya kegelapan bangsa Tetapi, Kau gunakan kesempatan ini Untuk menjajah negaraku Untuk memeras tenaga manusia Untuk merampas sumber daya alam Kau peralat mereka layaknya robot Kau suruh mereka bertekuk lutut padamu Kematian, kemiskinan, kebodohan menghias Dan kau pergi tanpa permisi
Raungan Tanaman Desiran angin melantunkanku Bola mata mengarahkanku Tumbuhan hijau menyejukkanku Aroma kerindangan menemaniku Bunga terhampar luas Kupu-kupu pun terbias Nyaman paru-paru tuk bernafas Tanpa syarat, tanpa batas Seiring waktu berjalan Semua itu tinggal kenangan Rusaklah hijau tanaman Manusia tak berhati, tak berperasaan Tak sadarkah mereka? Tanaman itu tanpa ampun teraniaya! Tanaman itu tersiksa dengan kejamnya! Akibat jemari mulus manusia durhaka!
Mr. Candy “Ping!” Bunyi pesan masuk di akun facebookku. Malas. Aku tetap berkutat di balik jendela kamarku. Menatap jalanan yang tengah diguyur hujan deras. Tanpa disadari, aku membuat guratan alis menyatu, bibir membentuk layaknya bunga yang masih kuncup ditambah dengan hembusan gas karbon dioksida kasar dari hidungku untuk menjelaskan kemarahan hari ini. Setelah beberapa tidak ada kontak komunikasi, hatiku semakin pasrah pada perasaan ini. Aku juga sadar bukan siapa-siapanya, toh sewajarnya hanya adik kelas. Ku hempasakan tubuh yang lemah ini di atas naungan kasur busa yang empuk. Mencoba merelaksasikan pikiran kalut dan kegalauan hati tingkat tinggi. “Aaaaa!” suaraku lebih cempreng dari biasanya! Merutuki laptop acer-ku yang hanya dibalas tatapan iba –seakan-akan tahu apa yang meresahkan kalbu ini. Dua detik berikutnya, ku keluarkan akun facebook. Memencet tombol x merah pojok kanan atas dan “Bip..bip!” Getaran hebat dua kali bersumber dari ponselku. Ponsel yang ku si...

Hai!

Hai!  Semasa sekolah, aku suka membaca mulai dari Majalah Bobo dan KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) waktu kelas 4-6 SD karena melihat teman sekolah soreku berlangganan Majalah Bobo. Beruntungnya, di desaku Majalah Bobo ada. Berkembang pula level bacaanku di masa SMP menjadi novel-novel teenlit , biografi, hingga bergenre horor. Aku mulai menulis diary keseharian, puisi, dan cerpen ketika SMP. Saat SMA, aku tidak terlalu banyak membaca buku seperti masa SMP. Akan tetapi, aku sempat menulis cerpen dan  explore hal baru termasuk menulis karya ilmiah (ala-ala) karena masih belajar untuk LKTI siswa. Akhirnya, hingga kuliah masuk jurusan sastra dan aku banyak membaca buku seputar kebudayaan, bahasa, dan spiritual. Aku juga sempat mengikuti beberapa kali perlombaan LKTI dan esai mahasiswa di bangku kuliah. Lumayan, mahasiswa seperti aku waktu ini bisa jalan-jalan ke luar kota gratis berkat menulis. Silakan menikmati tulisanku yang jauh dari kata sempurna ini. Semoga terhibur.  ...