Diperkirakan setidaknya 800.000 tahun
lalu, manusia purba di Pulau Jawa telah mempunyai suatu kebudayaan (Heekeren,
1950-51) "De Vroeg-Palaeolistiche Patjitan-Cultuur en Haar Betekenis".
Kapak batu kemungkinan digunakan untuk menguliti dan memotong daging binatang
buruan yang sebelumnya dibunuh mungkin dengan tombak kayu (Koentjaraningrat,
1984. “Kebudayaan Jawa”). Manusia purba di Pulau Jawa dan di bagian barat
Kepulauan Indonesia-Malaya mengembangkan kebudayaan berburu, meramu, dan
menangkap ikan di muara sungai. Mereka bertempat tinggal di bawah karang (abris
sous roche) dan tidur di belakang tadah angin atau di dalam gua
(Koentjaraningrat, 1984 “Kebudayaan Jawa”). Salah satu alat pemotong yang
digunakan manusia purba berupa kapak tangan berbentuk cakram yang sering
diasah. Sisa-sisa alat ini umumnya ditemukan di situs-situs prasejarah berjenis
abris sous roche dan mӧddinger (sampah dapur) di sepanjang Jawa
Timur, Sumatera Timur dan Utara, Malaysia Barat (Heekeren 1935; 1936; “Prehistorisch
Grottenonderzoek in Besoeki” 1937; “Ontdekking van het Hoa-binhien op Java
Stein Callenfels 1936 "An Excavation of the Three Kitchen Middens at Gua
Kepah, Province Wellsey, Straits Settlements") hingga Vietnam Timur dan
Utara.
Manusia purba dari ras
Austro-Melanesoid di bagian timur Kepulauan Nusantara dan Irian telah
menciptakan lukisan gua maupun alat yang terbuat dari pecahan batu kecil (flakes)
dengan pegangan berbahan kayu dan kiranya berfungsi sebagai pemotong (Soejono,
1964 “Beberapa Tjatatan Sementara Tentang Penemuan-Penemuan Baru Alat-Alat
Paleolitik Awal di Indonesia” ). Flakes sudah dibawa dan disebarkan ke
arah barat dan ditemukan di gua-gua prasejarah di Jawa Timur (Heekeren 1935;
1936 "Prehistorisch Grottenonderzoek in Besoeki") menunjukkan bahwa
terdapat suatu arus migrasi ke arah barat sampai Pulau Jawa. Keahlian bercocok
tanam umbi-umbian dan buah-buahan menggunakan teknik peladangan di Pulau Jawa
dan bagian-bagian lain di Indonesia, pertama kali datang kira-kira 2.000 tahun
sebelum Masehi dari Daratan Asia Tenggara melalui Semenanjung Melayu (Heekeren,
1957 “The Stone Age of Indonesia”)
Selama terjadi zaman neolitik, di
Pulau Jawa pada khususnya dan di Kepulauan Nusantara pada umumnya belum dikenal
padi. Padi ditanam dengan teknik peladangan berawal dari dataran tinggi di
Birma Utara (Grist, 1953 “Rice”). Kebudayaan perunggu di Indonesia diperkirakan
berasal dari Vietnam Utara, Goloubew (1929) “L’âge du bronze au Tonkin et dans
le Nord-Annam”). Pada beberapa situs juga sudah ditemukan alat-alat berbahan
besi. Berdasarkan penggalian purbakala suatu situs, ditemukan kebudayaan
perunggu-besi yang letak paling dekat dengan pulau Jawa berada di Gilimanuk,
daerah sebelah barat Pulau Bali (Soejono, 1963 “Some Aspects of the Bronze
Culture on Bali”.)
Perdagangan internasional di
daerah-daerah pantai Indonesia kemungkinan dikuasai oleh orang asing,
contohnya: India Selatan atau Trinil dari Srilanka. Pedagang dari India Selatan
yang pada abad ke-3 dan ke-4 Masehi membawa agama Hindu dan Buddha (versi India
Selatan) ke Kepulauan Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Awal mula zaman Hindu
merupakan akhir zaman prasejarah di Jawa (Koentjaraningrat, 1984 “Kebudayaan
Jawa”).
Komentar
Posting Komentar