Langsung ke konten utama

Babad Itu Fiksi atau Fakta?

Menurut Kamus Baoesastra Djawa Poerwadarminta (1939: 23) babad bermakna crita bab lelakon sing kelakon ‘kisah mengenai peristiwa yang telah terjadi’. Tidak hanya di Jawa, istilah babad dikenal juga di Bali dan Madura. Istilah babad sama dengan carita atau sajarah (Sunda), hikayat, silsilah atau sejarah (Sumatera, Kalimantan, dan Malaysia), tambo (Sumatera Barat), dan lontara (Sulawesi Selatan) (Ekajati, 1978: 1 “Babad Cirebon Edisi Brandes Tinjauan Sastra dan Sejarah”).

Beberapa babad menceritakan perkembangan historis dan mistis di dalam masyarakat Jawa, umumnya lingkungan keraton menjadi fokus utamanya. Babad biasanya terdiri dari ratusan halaman berupa tembang. Babad ditulis secara anonim (nama sang penulis tidak disebutkan) sehingga konteks sosial babad tidak diketahui dan waktu penulisannya tidak selalu dicatat. (Ricklefs, 2014 “Babad Giyanti: Sumber Sejarah dan Karya Agung Sastra Jawa”).

Kata babad biasanya diikuti dengan kata lain yang menjadi subjek atau tema utama mayoritas menjadi judul, contohnya: Babad Pati, Babad Mangit, Babad Senapati, dan Babad Pacina (Karsono, 2005 “Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa”). Babad dapat dibagi menjadi tiga berdasarkan isi atau tema yakni, 1) yang membatasi pada wilayah atau lokasi, contohnya: Babad Menatwis, Babad Majapahit, dan Babad Demak; 2) yang membatasi pada peristiwa, contohnya: Babad Prayud, Babad Giyanti, dan Babad Pacina; dan 3) yang membatasi pada tokoh, contohnya: Babad Sultan Agung, Babad Babad Jaka Tingkir, dan Babad Dipanegara (Karsono, 2005 “Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa”).

Penyusunan babad dibuat dengan unsur-unsur lain seperti genealogi: cerita rakyat (meliputi mitos, dongeng, dan legenda), hagiografi (kemukjizatan), dan simbolisme (perlambang) yang membuat babad memiliki ciri khas. Babad mempunyai unsur penting dan utama sekaligus disebut karya sastra berupa fiksionalitas. Seluruh unsur ini saling berkaitan sehingga seringkali tidak mudah menentukan batas antara teks sastra dan teks sejarah. Ditambah, teks sastra memiliki unsur yang sama dengan teks sejarah seperti yang diungkapkan Hayden White (Karsono, 2005 “Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa”). White (dalam Teeuw, 1984: 245-247 “Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra”) mengungkapkan bahwa kedua karya ini mempunyai kemiripan dari aspek cerita dan tokoh dan perbedaan yang ada pada plot. Perbedaan lain terletak pada fakta-fakta yang disajikan. Fakta-fakta dalam babad berupa kebenaran subjektif yang mempunyai ketaksaan, sedangkan fakta-fakta dalam sejarah meskipun juga mempunyai faktor subjektivitas penyusunnya tetapi memiliki kebenaran objektif (Karsono, 2005 “Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa”).

Kartodirdjo (1982: 17-18) “Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif” mengelompokkan babad ke dalam historiografi tradisional yang memiliki fungsi sosial dan psikologis untuk memberi masyarakat suatu kohesi antara lain dengan memperkuat kedudukan dinasti--dengan pusat kekuatan penyusunannya (pujangga) dan sejarawan profesional di lingkungan keraton bertugas menambah nilai simbolis dari historiografi sekaligus mendukung kekuasaan raja. Faktor kenisbian kronologi membuat wacana babad tidak dapat dikelompokkan ke dalam teks sejarah. Akan tetapi, banyak sejarawan menggunakan babad sebagai sumber sejarah. De Graaf dan Pigeaud (1985) “Kerajaan-kerajaan Islam pertama di Jawa: Kajian Sejarah Politik Abad ke-15 dan ke-16” merupakan contoh penulis yang menggunakan babad sebagai bahan kajian sejarah. Husein Djajaningrat, N. J Krom, dan Ricklefs adalah contoh lain sejarawan yang menggunakan babad sebagai sumber kajian (Karsono, 2005 “Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa”).

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersua

            Pukul 05.00 WIB, aku bergegas bangun dari tidurku. Dering alarm yang tenang mulai memecahkan keheningan kamar griya tawang dan smart watch yang menempel pada tangan kiriku bergetar kalem. Gelap gulita dalam kamar berubah menjadi terang, tubuhku berdiri dan tanganku meraih tombol on-off lampu kamar griya tawang. Butuh rentang waktu 1-10 menit untukku mencerna perubahan dari fase tidur ke fase bangun. Kali ini tak ada mimpi. Biasanya aku ingat betul apa mimpiku semalam. Namun, semalam sepertinya tak ada mimpi yang singgah dalam alam bawah sadarku. Terkadang, aku bingung mengapa aku mimpi buruk, biasanya dalam mimpi aku bersua pada suatu hal yakni, terkait trauma terbesar pada kehidupan. Kadang pula, bersua kawan-kawan lama yang pernah kukenal. Bersua teman SD, SMP, SMA, hingga kuliah. Bahkan, aku pernah bersua dengan atasan kerjaku saat dalam mimpi. Untungnya, dalam perjumpaan mimpi tersebut, aku tidak diminta untuk bekerja atau performance revi...

Hai!

Hai!  Semasa sekolah, aku suka membaca mulai dari Majalah Bobo dan KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) waktu kelas 4-6 SD karena melihat teman sekolah soreku berlangganan Majalah Bobo. Beruntungnya, di desaku Majalah Bobo ada. Berkembang pula level bacaanku di masa SMP menjadi novel-novel teenlit , biografi, hingga bergenre horor. Aku mulai menulis diary keseharian, puisi, dan cerpen ketika SMP. Saat SMA, aku tidak terlalu banyak membaca buku seperti masa SMP. Akan tetapi, aku sempat menulis cerpen dan  explore hal baru termasuk menulis karya ilmiah (ala-ala) karena masih belajar untuk LKTI siswa. Akhirnya, hingga kuliah masuk jurusan sastra dan aku banyak membaca buku seputar kebudayaan, bahasa, dan spiritual. Aku juga sempat mengikuti beberapa kali perlombaan LKTI dan esai mahasiswa di bangku kuliah. Lumayan, mahasiswa seperti aku waktu ini bisa jalan-jalan ke luar kota gratis berkat menulis. Silakan menikmati tulisanku yang jauh dari kata sempurna ini. Semoga terhibur.  ...
Your Destiny, My Destiny Our Destiny             Berbondong-bondong manusia kelaparan dengan ilmu. Bagi mereka segala yang ada di dunia ini adalah ilmu. Alam semesta memberikan mereka pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya, membangkitkan rasa penasaran itu dan mulai mencari jawaban. Mereka tak pernah puas dengan ilmu yang didapatinya saat ini. Awal tujuannya mencari ilmu, sebagian besar dari mereka menimba ilmu yang kemudian digunakannya untuk meraup harta yang sebanyak-banyaknya. Berharap asa dari iming-iming bunga tidur tentang ilmu yang dapat mengentaskan kemiskinan yang saat ini membelenggu leher-leher manusia jangkung itu karena untuk makan saja penuh dengan perjuangan membanting tulang, cucuran keringat, bahkan linangan darah merah segar ia korbankan guna memenuhi nafsu lambungnya. Perkampungan itu sungguh kumuh. Manusianya digerogoti malas dalam jiwanya, membuat mereka seperti tumpukan sampah  tak berguna. Sungguh...