Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014
Kelam Lampu jalanan tampak temaram Langit berhiaskan hitam pegam Menurunkan hujan berdentam-dentam Mengutukku pada kesunyian kian mencengkam Dan ku masih di sini, menanti indahnya mimpi malam Tapi, ku takut untuk tenggelam Dalam lingkaran masa lalu yang kelam Memang, hatiku terasa terbungkam Aku tak boleh berserah pada alam Walau kenyataan kian memburam Lupakan atau luka ini selalu menghujam !
Derai Luka Hujan berderai luka Ku sambut dengan suka Ku nanti dengan setia Walau hitam pegam menghias angkasa Tak ubahku berpaling darinya Ku buka kedua mata Menatap indahnya spektrum warna Terindah lagi engakau yang di sana Yang sanggup bungkamkanku seribu bahasa Mulutku dibuat bisu karenanya Meski sekadar menyapa Entah mengapa Aku selalu memikirkannya Ego membutakan segalanya Naif, itulah pantasnya Inilah akhir dari fatamorgana
 Penyelamat Bangsa Kala mentari bersinar cerah Saat itu, Indonesia terpecah Bertarung melawan penajajah Badannya terbalut seragam dengan gagah Meski desingan peluru membuat terperangah Banyak manusia tanpa berdosa tergeletak di tanah Banyak petani digaji tanpa upah Langit bumi saksi juta sumpah serapah Batin kian teriris belati sebilah  Semangat patriotisme takkan punah Langkahnya seolah berkata ‘janganlah kalah’ Korbankan cucuran segarnya merah darah Mengalir dari tubuhnya yang bergairah Tulang belulang dibiarkannya patah Diluapkannya segala amarah Penjajah wajib dibantah Agar nasib negara ini tak semakin parah!