Mr. Candy
“Ping!”
Bunyi pesan masuk di akun facebookku. Malas. Aku tetap berkutat di balik
jendela kamarku. Menatap jalanan yang tengah diguyur hujan deras. Tanpa
disadari, aku membuat guratan alis menyatu, bibir membentuk layaknya bunga yang
masih kuncup ditambah dengan hembusan gas karbon dioksida kasar dari hidungku
untuk menjelaskan kemarahan hari ini. Setelah beberapa tidak ada kontak
komunikasi, hatiku semakin pasrah pada perasaan ini. Aku juga sadar bukan
siapa-siapanya, toh sewajarnya hanya adik kelas. Ku hempasakan tubuh yang lemah
ini di atas naungan kasur busa yang empuk. Mencoba merelaksasikan pikiran kalut
dan kegalauan hati tingkat tinggi.
“Aaaaa!”
suaraku lebih cempreng dari biasanya! Merutuki laptop acer-ku yang hanya
dibalas tatapan iba –seakan-akan tahu apa yang meresahkan kalbu ini. Dua detik
berikutnya, ku keluarkan akun facebook. Memencet tombol x merah pojok kanan
atas dan “Bip..bip!” Getaran hebat dua kali bersumber dari ponselku. Ponsel
yang ku singkirkan jauh-jauh di bawah bantal bergetar-getar, meneriakiku untuk
segera membuka pesan masuk.
Ibu
jariku dengan lihai memencet kata open dan
“Sorry”
sepatah
kata tertera di layar LCD. Pesan singkat ini pasti dari Candy, siapa lagi kalau
bukan dia? Maklampir-kah? Jelas tidak mungkin! Tetapi nomor siapakah ini? Bodo
amat! Sayup-sayup angin dari balik jendela menggodaku untuk melepas penat
sementara.
“Fia!
Fia! Waktunya makan siang, sayang!” perintah ibu tuk segera pergi ke ruang
makan.
“Ya,
bu. Fia mau.. mau..” kata-kataku terpotong tak kuasa mengganjal rasa kantuk
yang merayu-rayu kedua mataku yang lambat laun cahayanya meredup. Bayangan
menjadi kabur dan akhirnya gelap.
“Bangun!
Dasar kebo! Udah jam berapa, non?! Ayah sama ibu nungguin kamu di ruang makan
tuh! Mandi dulu sana!” perintah Daisy, kakak perempuanku dengan nada
menggelegar, mengalahkan suara petir yang meramaikan suasana langit.
“Apa-apan
sih?! Masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu! Mentang-mentang tua aja pake
aturan sendiri!” kemarahan Daisy ku balas dengan kemarahan juga. Segera ku
bentangkan kaki lebar-lebar dan wusshh menuju kamar mandi. Hahaha!
“Fiaaaaa!
Anak paling kebo yang oernah ada!” rutuknya.
Selesai
mandi dan shalat, aku segera bergabung dengan keluarga di ruang makan.
“Sayang,
kamu kok bisa tidur selama itu sih? Ini
sudah jam tujuh malam, Fia. Habis ini belajar, ya! Belanda siap dihadapanmu.”
Tutur ayah mengingatkanku belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa melanjutkan
ke Sekolah Menengah Atas favorit.
“Siap,
kapten! Belajar dengan serius!” jawabku mantap masih dengan potongan ayam
goreng memenuhi mulut.
“Kalo
makan jangan sambil minum, kebo!” tukas Daisy dengan tatapan sadis.
Tapi,
hanya ku balas dengan bersendawa. Hahaha
Satu
bulan kemudian usai Ujian Nasional. Perasaanku campur aduk. Antara lega, dag-dig-dug,
dan senang. Hasil pengumumannya belum kunjung ada. Tetapi, ada kabar bhawa hari
ini pengumumannya. Tiba-tiba entah dari mana aku merindukan Candy. Saat ini ia
bersekolah di sekolah tujuanku nanti. Aku mendadak bersemangat! Huuh. Aku
menghembuskan nafas kasar sekali. Membuang beberapa ganjalan rasa rindu yang
menyesaki rongga dada. Rindu? Ya, rindu. Tapi jenis rindu apakah ini?
Duduk
di bawah pohon mangga. Bahu ku sandarkan santai dekat kelasku. Mendengarkan
lagu kesayangan sesekali kepalaku mengangguk-angguk hanyut dalam syair Avenged
Sevenfold ini. Pada bagian lagu yang paling tinggi dan berkesan tiba-tiba..
“Pruuk!” sebuah boneka teddy bear berwarna cokelat menimpukku. Penasaran
sekaligus jengkel memenuhi puncak ubun-ubun. “Kurang kerjaan! Kalo mau ngasih
boneka yang sopan dong!” omelku semrawut. Bukannya berterima kasih malah
menyalahkan. Tapi, lumayan lah, dapat koleksi tambahan, batinku.
Hendak
ku masukkan boneka sebesar bantal mini ini. Eiit.. ada sesuatu yang menempel
pada syal kuningnya. Ternyata selembar kertas berwarna merah jambu lembut
bertuliskan rapi nan indah dengan tulisan bergaya tegak bersambung “Selamat ya!” aku
hanya tersenyum. Belum juga pengunmuman nilai sudah ada yang ngucapin selamat.
“Fiaa! Fiaa! Aku punya kabar baik!” teriak Olif, sahabatku.
“Fiaa! Fiaa! Aku punya kabar baik!” teriak Olif, sahabatku.
“Apa?
Apa? Apanya yang baik?!” jawabku tak kalah hebohnya.
“Itu..
itu nilai kamu!” Olif masih terbata-bata karena harus melawan nafasnya yang
naik turun.
“Emangnya
kenapa? Kenapa?!” aku masih mebrondongi pertanyaa dengan informasi
setengah-setengah darinya.
“Selamat
ya! Nilai ujianmu tertinggi nomor dua di sekolah kita! Semoga bisa meneruskan
jejak si-Permen itu!”
“Apa?!
Terima kasih, Tuhan! Akhirnya aku bisa meneruskan jejak Candy yang sempat
menghilang. Tapi, dari siapakah boneka teddy bear tadi?
Hoamm..
hari apa ini? Oh ya, hari ini adalah hari Sabtu. Hari yang selalu membuatku
merasa lebih baik. Mentari dengan malu-malu menampakkan secercah cahayanya
dalam kamarku. Hari ini adalah hari penutup untuk minggu pertama aku mengenakan
putih abu-abu. Apakah ada malaikat Mikail menunggu di samping tempat tidurku?
Entahlah. Yang jelas hari ini aku bahagia. Semua siap. Saatnya berangkat menuju
sekolah dekat denagn temapat kostku. Cukup waktu lima menit saja menempuhnya
dengan berjalan kaki.
Senyum
paling tulus ku tebarkan ke seluruh lorong kelas sepuluh agar mereka bisa
merasakan kebahagiaanku pagi ini. Langkahku terasa lebih ringan, mengangkat
beban rindu ini pada Candy. Serasa melayang ke langit tujuh. Lagi-lagi tak tahu
penyebab yang jelas. Nyatanya tak ada hal menarik selama delapan jam plejaran
di sekolah. Aku semakin bosan. Meninggalkan dengan penuh rasa malas
menggerogoti tubuh. Langkah gontai dan ogah-ogahan menghipnotis.
Baru
saja sampai di depan gerbang sekolah, ayup-sayup suara memanggil namaku.
Kepalaku celingukan, mencari sumber suara itu. Apa?! Suara itu adalah suara
Candy! Sontak ku bungkam mulutku dengan kedua tangan. Kami bercakap-cakap
sebentar hingga ada pertigaan memisahkan. Candy meminta alamat kostku. Entah
untuk apa secarik kertas bergambar minnie mouse yang ku beri padanya.
Ia
berjalan lurus, sedangkan aku berbelok pada gang tempat kostku. Aku tak
benar-benar berbelok. Berhenti di bawah naungan pohon belimbing di tepi jalan.
Saat Candy hendak naik kendaraan umum, tiba-tiba ada seorang gadis cantik telqh
menungguinya dengan mobil Honda Jazz berwarna merah menyala. Membuat gadis itu
menjadi tontonan ratusan pasang mata di bawah terik yang bukan main panasnya.
Bahkan, gadis itu menggamit lengan Candy dan menariknya ke dalam mobil. Tak
kuasa membendung rasa sakit dan gemuruh guntur dalam hati, segera ku ambil
langkah lebar-lebar menuju kost. Dadaku
sesak. Rasanya sakit sekali. Seperti dihempaskan ke suatu tempat yang teramat
sempit. Hanya aku dan rasa sakit ini.
Usai
shalat Isya’, aku memutuskan untuk menghirup udara segar. Berjalan-jalan
keliling kompleks mungkin akan sedikit menenangkan. Karena lelah berjalan, aku
berhenti di taman. Sepi. Tidak seperti biasanya menjadi sesepi ini. Biasanya
ada banyak anak kecil berlari-lari dan memainkan permainan di sana. Aku duduk
sendirian di atas ayunan dua bangku. Imajinasiku mengembara. Membayangkan
kejadian terburuk hari ini. Cukup! Bulir-bulir air mataku membasahi pipi.
“Bip..bip!” inbox-ku ada warna merah
di atasnya, pertanda ada pesan singkat masuk. Aku membukanya. Aku tercekat pada
isi pesan itu “Tunggu di sana, ya!” Satu kalimat aneh dari pengirim nomor asing.
Mungkin salah kirim, anggapku mengiyakan.
Samar-samar
ku lihat sesosok bayangan dari kejauhan yang diterangi lampu berwarna oranye.
Derup langkahnya kian mendekat, tetapi belum juga ku menegenali wajahnya.
Jantungku berdebar-debar. Keringat dingin bercucuran melalui pori-pori kulitku.
Apakah itu penculik? Positive thinking! Kemeja
kotak-kotak biru dongker berpadu putih membalut tubuhnya. Jeans warna biru
dongker dan sepatu warna biru dongker membuatnya tampak segar dan menawan.
Jelas sekali bahwa ia penyuka biru dongker. Tanpa basa-basi lagi ia duduk tepat
di depanku. Sosok itu adalah Candy! Aku mebuang wajah ke samping, mengusap
sisa-sisa air mata dan menyembunyikan tampang malasku.
“Sendirian?”
ragu-ragu Candy memulai percakapan.
Hening.
Aku hanya memainkan ujung rambutku yang tergerai sebahu.
“Aku
sudah tahu. Gadis yang tadi siang itu sepupuku dari jauh dan udah lama nggak
ketemu. Jadinya, ia memperlakukanku seperti itu.” Jelasnya.
“By the way, kamu udah dapet boneka teddy
bearnya?” tanya Candy
“Mmm.. yang
cokelat itu?”
“Iya, kamu suka?”
“Suka. Banget malah. Apa itu dari kakak?”
“Iya, sebagai tanda selamat datang di sekolah baru”
“Ohh..”
“Kamu nggak marah, kan?” Candy memastikanku.
“Iya, kamu suka?”
“Suka. Banget malah. Apa itu dari kakak?”
“Iya, sebagai tanda selamat datang di sekolah baru”
“Ohh..”
“Kamu nggak marah, kan?” Candy memastikanku.
“Nggak,
ngapain marah? Aku juga bukan siapa-siapa kakak. Hanya..”
Kalimatku terpotong dengan kalimat Candy.
Kalimatku terpotong dengan kalimat Candy.
“Sekarang
nggak lagi” ucap Candy mantap.
Tanpa
basa-basi lagi, ia mengeluarkan sebuah benda dibalik tasnya. Berukuran besar
dan berbentuk.. gitar! Ya, sebuah gitar berwarna biru dongker. Ia mulai
memainkan beberapa kunci dasar pada permulaaan lagu. Perlahan-lahan ia
melantunkan deretan lagu “Merindukanmu” yang dipopulerkan oleh d’Massive band.
Suaranya merdu. Tak ku sangka akan seperti ini.
Tubuhku
benar-benar memebeku. Nafasku terhenti. Jantungku mempercepat pacunya. Lidahku
terasa kelu, tak mampu mengucap sepatah kata apapun. Hanya mampu menatapnya
dalam diam. Bulir-bulir air mataku keluar. Baru kali ini air mataku keluar
begitu saja di hapadan laki-laki. Bulir demi bukir menjadi saksi bisu di antara
bulan dan bintang gemintang di langit. Pada baris terakhir, ia melantunkannya
dengan kedua bola mata itu menatapku lekat-lekat:
Selama
aku masih bisa bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan selalu memujamu
Meski ku tak tahu lagi,
engkau ada di mana
Dengarkan aku, ku
merindukanmu
Dengarkan aku, ku
merindukanmu
Komentar
Posting Komentar